Cinta Seorang laki-laki Biasa

April 25th, 2007 by syania-a

Cerita yang tak kalah mengharukan….sedih banget dech…..met menangis ye :)

(he2 dari temen kantor juga)


MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan
alasan kenapa

Dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok
ke belakang,

hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan
yang terjadi

bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak
orang; Papa dan

Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania.
Mereka ternyata

Sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania
mengantarkan

surat

undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin
menikmati

hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di
kampus sepi.

Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya
berpijar bagaikan

lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai
kata-kata yang

barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut
Nania terbuka.

Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari

sana

. Ia hanya
menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak
punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak
jawaban, alasan detil

dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki
itu. Tapi

Kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara
mendadak gagap.

Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania
menyampaikan keinginan

Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap
momen yang tepat

karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga,
sebab

kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta
buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di
wajah kakak

tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga,
dan terakhir dari

Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius
ketika mengira Nania

bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan
keponakan-keponakan Nania yang

balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua
menatap

Nania!

"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak,
apa lucunya jika Rafli

memang melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas,
"Papa hanya tidak mengira

Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan
adalah

Pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar
sebab setelah itu

berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti
tatapan mata penuh

seleidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk
layaknya

pesakitan.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli,

kan

?" Mama
mengambil inisiatif
bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa,
"maksud Mama

Siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya
tidak harus iya,

toh?"

Nania terkesima.

"Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai
dari ajang

busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat
bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar
insinyur.

Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa
mendapatkan

laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia
kasihi, Papa,

kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan
panjang uraian

mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania
lontarkan.

"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan
airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka,
melainkan

Sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai
stadium empat. Parah.

"Tapi kenapa?"

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan

Pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan
dan gaji yang amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka
matanya.

"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran
duniawi menjadi parameter

kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat
pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela
Rafli.

Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus
membelanya.

Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa
membuat Rafli

Tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme
berdasarkan perasaan yang Telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur
duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering

berbisik-bisik
di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari
Rafli. Jeleknya,

Nania masih belum mampu juga menjelaskan
kelebihan-kelebihan Rafli agar

tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli,
begitu besar

hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan
tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang
membuat perempuan itu sangat bahagia.

"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta
Rafli pada Nania."

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka
terlihat tak

percaya.

"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis
secantikmu!"

"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga
pintar!"

"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan
punya kehidupan

sukses!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan
kali ini

dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan
Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng

kan

?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan
kakak-kakaknya, bahwa adik

mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli.
Lagi-lagi percuma.

"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu
sukses, mapan, kamu

bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal
adik mereka

sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika

lima

tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak,
satu lelaki dan

satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja
lebih rajin

setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak
perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania
memintanya untuk tidak terlalu

memforsir diri.

"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan
dengan gaji Abang."

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia
tak perlu

khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa
menangkap hanya maksud baik.

"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga.
Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan
lembut. Saat itu

sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan
membuat pikiran

Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari
keluarga biasa,

dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan
pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak
penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di
kantor semakin

gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar,
anak-anak

pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di
dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli
melintas dan

bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik
tetangga kanan

dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan
Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun
masih, tapi

Nania
belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup
dengan perasaan

bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum
bergeser dari

puncak.
Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga.
Selama kurun

waktu
itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat
Nania

menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah
lewat dua minggu

dari waktunya.

"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua,
Nania. Harus segera

dikeluarkan!"

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan
sejenis obat ke

dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi
hebat hingga

perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika
semuanya

normal,
hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si
kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di
rumah sakit. Hanya

waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke
kamar mandi,

dan
menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara
kakak-kakak serta

orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam
setelah obat

pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan
melahirkan. Rasa sakit

dan
melilit sudah dirasakan Nania per

lima

menit, lalu tiga menit. Tapi
pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu."

"Belum ada perubahan, Bu."

"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster
empat jam kemudian

menyemaikan harapan.

"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster
terakhir yang

memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika
pembukaan

pecah,
didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab
dulu-dulu

kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan
mereka

meleset.

"Masih pembukaan dua, Pak!"

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena
rasa sakit

yang
sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan
itu makin

payah.
Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

"Bang?"

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri
memperjuangkan dua

kehidupan.

"Dokter?"

"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali
pusar."

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi
kalau begitu?

Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir
kekhawatiran. Ia senang

karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga
ke pintu kamar

operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba
putih. Sebuah

sekat
ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan
ketrampilan

dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa
berada dalam

perahu
yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya
naik-turun. Terakhir,

telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan
di sekitarnya,

dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian
dia tak

sadarkan
diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa
menciumnya. Bibir

lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

"Pendarahan hebat."

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap,
berwarna merah.

Ada

varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah
bagaimana

pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama
sekali.

Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan
orangtua

mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki
itu tercenung

beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di
pembuluh-pembuluh

Darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas
cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli
bolak-balik dari

kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian
bagi Nania dan

Juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru,
si kecil. Bayi itu

sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya
hisapnya. Tidak

sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut
menunggui Nania di

rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat
perkembangan si

kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara
pihak keluarga Nania

dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah
meninggalkan rumah

sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah.
Syukurnya pihak

perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan
izin penuh.

Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu
diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya
sebuah Quran

kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di
ruang ICU.

Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan
menjenguk sanak

Famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana
itu bercakap-cakap

Dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa
merasakan

kehadirannya.

"Nania, bangun, Cinta?"

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium
tangan, pipi

Dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai
pesimis dan

Berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang
setiap hari ke rumah sakit,

mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya
mesra. Kadang

lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah
sakit dan

membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di
bagian ini dan

itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

"Nania, bangun, Cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan
permohonan.

Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia
bisa melihat lagi

Cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua
yang menjadi sumber

semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak
merindukan

ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain,
tidak wajahnya yang lama

Tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat
sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan
itu di mata,

gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan
kecil lain di

wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania
sadar dan wajah

penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam
tangan Nania dan

mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur
berulang-ulang dengan

airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus
kali dalam doa.

Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama
sebelas tahun

terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar
anak-anak ke

sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor,
lelaki itu

cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras,
melihat senja

datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun
yang sedang

jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum
tidur.

Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu,
memakaikannya gaun

tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski
seringkali Nania mengatakan

Itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan
lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak
kenal lelah

selalu
meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa
dialah perempuan

paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata
Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga
jalan-jalan keluar.

Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja,
makan di

restoran,
nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut.
Anak-anak,

seperti
juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan
Nania. Begitu

bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan
orang-orang di

sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih
pada Rafli

Yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke

sana

kemari. Masih dengan

Senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang
ditemuinya di

jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman
Nania tak puas

hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari,
mengoceh, semua

berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"

"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan
kedua!"

"Nania beruntung!"

"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa
adanya."

"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat
bagaimana suaminya

memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka
masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga
orang, Papa dan

Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat
Nania makin

frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu
kemudian. Orang-orang

Di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali
selamanya akan

Selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini
berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket
dengan ayah

mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat
kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania
menghitung-hitung semua,

anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka
tempati,

kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski
tubuhnya tak

berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama
karena usia,

Meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari
laki-laki

Biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Diketik ulang oleh Juli Prasetio Utomo, 28 Juni 2005,
dengan pembenahan

beberapa ejaan dan tanda baca.

Cinta Bermuara dengan Sendirinya

April 25th, 2007 by syania-a

Hm…sungguh suatu sinopsis yang mengharukan…..aq sengaja posting ini untuk teman2 yang merasa seperti ini….semoga berarti……n met membaca……:)

(dari teman kerjaku…)

Kenapa tak pernah kau tambatkan.
Perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat bukan hanya satu.
Pelabuhan tenang yang mau menerima
Kehadiran kapalmu!

Kalau dulu memang pernah ada.
Satu pelabuhan kecil, yang kemudian.
Harus kau lupakan,
Mengapa kau tak kau cari pelabuhan lain,
Yang akan memberikan rasa damai yang lebih?

Seandainya kau mau,
Buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
Pelabuhan mana yang akan kau singgahi untuk selamanya,
Hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
Rumah dan pelabuhan hatimu.

(Judul puisi “Pelabuhan” karya Tyas Tatanka, kumpulan
puisi 7 Penyair Serang)

eramuslim – Matanya berkaca – kaca ketika perempuan itu
selesai membaca dan merenungi isi puisi itu. Dulu sekali perempuan itu telah
pernah berharap pada seorang laki – laki yang dia yakin baik dan hanif, ada
kilasan – kilasan di hatinya yang mengatakan bahwa mungkin dialah sosok yang
selama ini dia cari .. dialah sosok yang tepat untuk mengisi hari – harinya
kelak dalam bingkai pernikahan.

Berawal dari sebuah pertemanan. Berdiskusi tentang segala
hal, terutama masalah agama. Perempuan itu sedang berproses untuk mendalami
agama Islam dengan lebih intens. Dan laki – laki itu, dia paham agama, aktif di
organisasi ke-Islam-an, dan masih banyak lagi hal – hal yang ada dalam diri
lelaki itu. Sehingga kedekatan itu membawa semangat perempuan itu untuk terus
menggali ilmu agama, dan mempraktekkannya dalam kesehariannya. Kedekatan itu
berlanjut hingga menjadi kedekatan yang intens, berbagi cerita, curahan hati,
saling meminta saran, saling bertelepon, dan saling ber-SMS, yang akhirnya
segala kehadirannya menjadikan suatu kebutuhan. Kesemuanya itu awalnya
mengatasnamakan persahabatan.

Suatu hari salah seorang sahabatnya bertanya,”Adakah
persahabatan yang murni antara laki – laki dan perempuan dewasa tanpa
melibatkan hati dan perasaan terlebih bila sudah muncul rasa simpati, kagum,
dan kebutuhan untuk saling berinteraksi?” Perempuan itu tertegun dan hanya bisa
menjawab,”Entahlah..”

Sampai suatu hari, laki – laki itu pergi dan menghilang …
Awalnya masih memberi kabar. Selebihnya hilang begitu saja. Dan perempuan itu
masih berharap dan menunggu untuk suatu yang tak pasti. Karena memang tidak
pernah ada komitmen yang lebih jauh di antara mereka berdua. Setiap ia mengenal
sosok lelaki lainnya .. Selalu dibandingkan dengan sosok laki – laki sahabatnya
itu dan tentulah sosok laki – laki sahabatnya itu yang selalu lebih unggul
dibanding yang lain. Dan perempuan itu tidak pernah lagi membuka hatinya untuk
yang lain… Sampai suatu hari…

Perempuan itu menyadari kesia – siaan yang dibuatnya. Ia
berharap ke sesuatu yang tak pasti hanyalah akan membawa lukadi hati… Bukankah
banyak hal yang bermanfaat yang bisa dia lakukan untuk mengisi hidupnya kini …
Air matanya jatuh perlahan dalam sujud panjangnya di kegelapan malam. Dia
berjanji untuk tidak mengisi hari – harinya dengan kesia – siaan.

“Lalu bagaimana dengan sosok laki – laki itu?” Perlahan
saya bertanya kepadanya.

“Saya tidak menyalahkan siapa – siapa, yang salah
hanyalah persepsi dan harapan yang terlalu berlebihan dari kedekatan itu, dan
proses interaksi yang terlalu dekat sehingga timbul gejolak di hati… Biarlah
hal itu menjadi proses pembelajaran dan pendewasaan bagi saya untuk lebih hati
– hati dalam menata hati dan melabuhkan hati,” ujarnya dengan diplomatis.
Hingga saya menemukan perempuan itu benar – benar menepati janjinya.

Dunia perempuan itu kini adalah dunia penuh cinta dengan
warna – warna jingga, tawa – tawa pelangi, pijar bintang di mata anak – anak
jalanan yang menjadi anak didiknya … Cinta yang dialiri ketulusan tanpa pamrih
dari sahabat – sahabat di komunitasnya yang menjadikan perempuan itu produktif
dan bisa menghasilkan karya … cinta yang tidak pernah surut dari kedua orang
tua dan keluarganya …Dan yang paling hakiki adalah cintanya pada Illahi yang
selalu mengisi relung – relung hati … tempatnya bermunajat di saat suka dan
duka.. Indahnya hidup dikelilingi cinta yang pasti.

Adakalanya kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang
akan memberi sejuta makna bagi isi jiwa. Sehingga … saat seseorang itu pun
hilang begitu saja … Masih ada setangkup harapan agar dia kembali … Walaupun
ada kata – katanya yang menykitkan hati … akan selalu ada beribu kata maaf
untuknya… Masih ada beribu penantian walau tak pasti … Masih ada segumpal
keyakinan bahwa dialah jodoh yang dicari sehingga menutup pintu hati dan
sanubari untuk yang lain. Sementara dia yang jauh di sana mungkin sama sekali
tak pernah memikirkannya. Haruskah mengorbankan diri demi hal yang sia – sia??

Masih ada sejuta asa … Masih ada sejuta makna … Masih ada
pijar bintang dan mentari yang akan selalu bercahaya di lubuk jiwa dengan
menjadi bermakna dan bermanfaat bagi sesama …

“Lalu … bagaimana dengan cinta yang dulu pernah ada??”
tanya saya suatu hari.

Perempuan itu berujar,”Biarkan cinta itu bermuara dengan
sendirinya…di saat yang tepat…dengan seseorang yang tepat..hanya dari Allah
SWT.di saat dihalalkannya dua manusia untuk bersatu dalam ikatan pernikahan
yang barokah..”

Semoga saja akan demikian adanya….

Untuk teman2 yang tengah meniti masa transisi.

Doa Kaum Hawa

April 18th, 2007 by syania-a

BISMILLAHIROHMANNIROHIM

Tuhanku…
Aku berdo’a untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu

Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting
Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau
dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia

Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika aku berbuat salah

Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya

Tuhanku…
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna,
sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna

Tuhanku…
Aku juga meminta,
Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku

Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu
Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya
Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana,
mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:
"Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna."

Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat
Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan

Amin….

Memaknai Pekerjaan

April 18th, 2007 by syania-a

Apa arti kerja bagi Anda?” tanya saya kepada sejumlah kawan.
”Aktivitas untuk memperoleh nafkah hidup,” jawab Didi yang pengusaha.
”Kegiatan yang melibatkan usaha mental atau fisik yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan atau hasil,” ujar Elly yang dosen perguruan tinggi.
”Tugas-tugas yang harus ditunaikan,” kata Wawan yang tentara.
”Mengembangkan potensi diri, memenuhi panggilan batin, mencari nafkah sekaligus memberi makna pada hidup melalui karya-karya kita,” urai Bagong yang pegawai.

Cara pandang atau peta yang kita pergunakan untuk memberi makna pada pekerjaan, akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita dalam bekerja. Seorang yang memaknai pekerjaannya sebagai sesuatu yang penting, bernilai, bahkan mulia, misalnya, akan menunjukkan sikap kerja yang berbeda dengan mereka yang memaknai pekerjaannya sebagai hal yang tidak penting, tak bernilai, bahkan hina. Orang-orang yang memaknai pekerjaannya sebagai sesuatu yang pantas dibanggakan akan menunjukkan perilaku kerja yang berbeda dengan orang-orang yang merasa malu dengan pekerjaan mereka. Masalahnya bukan pada ”apa yang dikerjakan”, tetapi pada bagaimana mereka memaknai pekerjaan tersebut.

Seperti seorang kawan bernama Anton yang memaknai pekerjaannya hanya sebagai "pekerjaan untuk nafkah hidup semata". Statusnya sebagai wiraniaga di perusahaan asuransi terkemuka negeri ini, sebenarnya cukup bisa dibanggakan. Namun, ia sedikit sekali menaruh minat atas apa yang dikerjakannya dan tak menyukai sifat pekerjaannya yang memberikan banyak tantangan. Hanya karena merasa wajib bekerja agar mendapatkan penghasilan, maka Anton bertahan di tempat kerjanya itu. Akibatnya, Anton sangat sensitif terhadap soal jumlah komisi yang diperolehnya. Jika komisinya berkurang sedikit saja dari biasanya, atau ia mendapatkan informasi ada komisi yang sedikit lebih tinggi di perusahaan asuransi lain, maka ia langsung ingin cepat-cepat pindah kerja. Kalau ada kesempatan kerja di luar industri asuransi pun, sepanjang hal itu memberikan penghasilan lebih besar, Anton akan segera merasa tertarik. Saat-saat yang paling menyenangkan bagi Anton adalah tanggal pembayaran komisi/gajian. Selebihnya adalah kewajiban yang harus dilakukan.

Berbeda dengan Anton, kawan bernama Tommy memaknai pekerjaannya sebagai "karier". Ia ingin ada peningkatan karier dari waktu ke waktu. Artinya, ia tidak melihat uang atau gaji sebagai satu-satunya faktor penentu kepuasan kerjanya. Ia juga memperhitungkan soal-soal lain, terutama soal kekuasaan/jabatan, status sosial, dan gengsi. Walau gajinya sebagai kepala bidang operasional sebuah bank nasional yang sudah mapan hanya rata-rata industri saja, namun ia tetap bersemangat karena merasa ada prospek karier untuk menjadi kepala cabang di tahun-tahun mendatang. Lagi pula, ia sudah mulai mendapatkan fasilitas pinjaman untuk membeli mobil idamannya, sesuatu yang menaikkan gengsinya di lingkungan kerabat dan tempat pemukimannya. Bagi Tommy, ia akan mulai berpikir untuk mencari pekerjaan baru, bila kariernya sudah mentok tak kemana-mana.

Lain lagi halnya dengan Titin yang bekerja sebagai penulis lepas. Ia memaknai pekerjaannya sebagai "panggilan batin". Ia mencintai pekerjaannya, dan antara pekerjaan dengan irama kehidupannya sehari-hari tak terlalu banyak bedanya. Sebagai ibu dari dua anak remaja yang sudah ditinggal mati oleh suaminya, Titin terkadang ikhlas tak mendapatkan imbalan material apapun dari karya tulisnya yang dipublikasikan pihak lain untuk tujuan sosial. Ia merasa memang itulah tugasnya. Ia merasa ada kemuliaan dari apa yang dikerjakannya. Dan ia juga sangat menikmati kebebasan waktu kerjanya yang menurutnya ”tak ternilai harganya”. Sebab, sebagai penulis lepas ia bisa mengatur sendiri waktu untuk mengurus anak-anak dan mencari nafkah. Ia juga tidak harus terikat pada lokasi kerja seperti kantor, karena bisa bekerja dimana saja berkat laptop sederhana miliknya. Karenanya, walau penghasilan Titin tak berlebihan, ia tak pernah berpikir untuk berganti pekerjaan.

Baik Anton, Tommy, maupun Titin, adalah wajah dari orang-orang di sekitar kita. Orang-orang seperti Anton selalu mengutamakan gaji, komisi, uang. Status sosial, gengsi, jabatan, dan panggilan hidup urusan belakangan. Sepanjang pekerjaan mereka menghasilkan uang yang lebih banyak, mereka bersemangat dalam bekerja. Sementara orang-orang seperti Tommy masih bersedia bersabar dengan gaji yang pas-pasan, asalkan diberi jabatan formal, kekuasaan memimpin sejumlah bawahan, dan gengsi karena bekerja di perusahaan terkemuka. Dan bagi orang-orang seperti Titin, pekerjaan haruslah berkaitan dengan keyakinannya atas kontribusi hidupnya bagi keluarga, bangsa, masyarakat, atau dunia. Tak soal penghasilan pas-pasan, tanpa jabatan mentereng, tak punya kantor yang megah, dan sebagainya. Asal ada keyakinan bahwa karya-karyanya berguna bagi banyak orang, ikut mendorong proses-proses kebudayaan, membuat dunia menjadi tempat yang lebih indah dan layak dihuni, cukuplah.

Anton, Tommy, dan Titin amat boleh jadi merasakan kepuasan yang berbeda atas hasil-hasil pekerjaannya. Di antara mereka juga mungkin sulit untuk saling memahami pilihan satu dengan yang lain. Masalahnya bukan pada ”apa” yang mereka kerjakan, tetapi pada kemampuan memaknai pekerjaan itu sendiri. Artinya, bisa saja seorang buruh pabrik atau tukang angkut sampah memaknai pekerjaan sebagai amanah atau panggilan hidup yang harus ditunaikan. Ia bisa dengan ikhlas dan senang hati melakukan pekerjaannya. Dan sebaliknya, seorang eksekutif muda atau manajer senior di perusahaan terkemuka hanya menganggap pekerjaannya sebagai sarana memperoleh uang semata. Sehingga, ia sering merasa terbebani, tidak gembira dan kurang puas dengan pekerjaannya.

Sejumlah psikolog ahli yang mendalami masalah kepuasan kerja dan kepuasan hidup menyimpulkan bahwa hanya orang-orang yang mampu memaknai pekerjaannya sebagai hal yang berkaitan dengan panggilan hidup atau amanah yang harus ditunaikanlah yang mengalami kepuasan kerja dan kepuasan hidup paling maksimal. Mereka umumnya memiliki minat yang tinggi terhadap apa yang mereka kerjakan, dan menikmati sifat-sifat dari pekerjaannya. Itu sebabnya ada kegembiraan dalam bekerja, dan motivasi mereka mengalir dari dalam batinnya. Mereka menjadi orang-orang yang tidak saja produktif dan kreatif, tetapi juga sekaligus loyal dengan tugas pekerjaannya.

Bagaimana kita memaknai pekerjaan yang kita pilih saat ini? Adakah pekerjaan yang kita lakukan hari-hari ini sesuai dengan minat dan potensi terbaik kita? Disamping soal uang, apakah pekerjaan kita berkesesuaian dengan panggilan hidup atau amanah dari langit yang memang perlu ditunaikan? Mampukah kita melihat kemuliaan dari pekerjaan kita? Setiap kita tentu memiliki jawabannya masing-masing. Yang jelas, bila kita ingin meningkatkan kepuasan kerja dan kepuasan hidup, maka hal terpenting yang mungkin perlu kita periksa adalah bagaimana kita memaknai pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari.

Memberi makna pada pekerjaan, itulah hal yang tak bisa dilakukan oleh mesin-mesin canggih dewasa ini. Memberi makna pada pekerjaan juga tak mampu dilakukan oleh kambing, kucing, dan anjing. Sebab kemampuan memberi makna, adalah kemampuan khas yang dianugerahkan Sang Pencipta hanya kepada manusia ciptaan-Nya. Dan dengan bekal kemampuan memaknai ini pula manusia di mungkinkan untuk mengenal konsep kebahagiaan dalam hidupnya. Apakah kemampuan ini kita kembangkan dengan gegap gempita, atau terbengkalai begitu saja sehingga kita sering merasa terlunta kehilangan arah?

Figur Pemimpin Indonesia

April 18th, 2007 by syania-a
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya tentang manusia Pancasilais, yaitu manusia yang dapat mempraktikkan, menghayati, serta meleburkan dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Peleburan ini terwujud dalam perilaku saat ini dalam kehidupannya, dimana perbuatan atau perilakunya menjadi perwujudan atau pengejawantahan sifat-sifat Tuhan dalam kehidupannya.

Salah satu sifat pemimpin tersebut ialah bahwa dia dapat mengendalikan diri karena di dalam zaman kegelapan ini atau kaliyuga, manusia sulit untuk mengendalikan dirinya. Dia dapat mewujudkan kesucian baik dalam pikiran, ucapan dan tindakan, serta dapat mempraktikkan cinta kasih atau welas asih terhadap dirinya maupun terhadap orang lain, dan dapat mewujudkan sifat-sifat kebenaran dalam perilakunya. Pengendalian diri dan kesucian ini dapat gugur karena keterikatan atau kelekatan akan mempengaruhi kejernihan pandangan pikiran manusia.

Seorang pemimpin harus dapat mewujudkan dan menjunjung tinggi kebenaran, serta menciptakan iklim pergaulan yang jujur dan benar. Kesadaran kita akan merosot karena pergaulan kita dengan orang-orang yang tidak mendukung peningkatan kesadaran karena keterikatan dengan keadaan yang tidak mendukung evolusi batin.

Pemimpin Indonesia harus dapat menciptakan lingkungan yang bisa mendukung peningkatan kesadaran dan evolusi batin manusia Indonesia. Dengan terjadinya evolusi batin manusia ke arah kesempurnaan diri maka tiap proses pembangunan bangsa akan diarahkan dan ditujukan terhadap evolusi batin manusia. Pemimpin ini dalam setiap tindakan maupun pekerjaannya akan dilandasi oleh cinta kasih sebagai perekat dalam interaksinya dengan orang lain maupun lingkungan di sekitarnya.

Banyak orang yang menciptakan perekat-perekat baru dalam setiap hubungannya dengan orang lain maupun lingkungannya, bukan mempraktikkan perekatan dengan cinta kasih, yang akhirnya menyebabkan mereka terperangkap oleh perekat-perekat yang mereka usahakan dan ciptakan sendiri. Bagi seorang pemimpin yang sudah dapat mengendalikan suka dan duka serta sudah dapat menghilangkan makna suka duka tersebut, bagi dia semuanya sama saja di dalam menghadapi segala permasalahan yang bersifat dualisme.

Karena pengendalian diri dan penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sudah dapat diwujudkan di dalam setiap perilaku hidupnya maka di dalam menjalankan roda kepemimpinannya dia akan menjadikan dirinya dan pengalamannya sebagai tolok ukur untuk menyejahterakan, memakmurkan, dan mengamankan negara dan rakyatnya.

Pemimpin tersebut tidak perlu menunggu orang lain untuk merasakan kesatuan dan persatuan dengan dirinya, keberhasilannya mengembangkan rasa persatuan dan kesatuan di dalam dirinya sudah cukup untuk mengetahui diri-diri yang lain atau manusia-manusia lain karena kesatuan diri sebagai sesama manusia.

Umat manusia akan menjadi sangat kaya jika dapat merasakan kesatuan dan persatuan dengan sesama manusia. Sesungguhnya pengalaman seorang manusia yang Pancasilais sudah cukup untuk menyadarkan kita akan kemuliaan dan kesucian atau kesempurnaan di dalam diri kita. Pengalaman-pengalaman pemimpin yang Pancasilais sudah cukup untuk membangkitkan kesadaran, kasih, dan juga dapat mengajak kita berpaling kepada yang satu adanya, yaitu Tuhan.

Maka dari itu, jika negara mau menjadi makmur dan sejahtera harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang sudah mengetahui kemakmuran dan kesejahteraan, serta sudah mengetahui bagaimana memakmurkan dan mensejahteraan dirinya. Dengan sendirinya dia dapat memakmurkan dan menyejahterakan orang lain atau masyarakat, dan negaranya.

Pindah Kerja

April 18th, 2007 by syania-a

Pindah kerja? Ehmm ada apa yah kok tiba-tiba Anda memutuskan untuk pindah kerja. Memang pindah kerja adalah hak setiap karyawan dan sah-sah saja kok jika hal itu terjadi. Mencari pekerjaan itu memang susah-susah gampang, Anda cocok dengan tempat bekerja Anda sekarang ya betah tetapi jika tidak cocok Anda akan mencari yang baru.

Berbagai alasan mengapa banyak yang pindah bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain, kadang membuat bingung apa sih yang mereka cari sebenarnya? Di bawah ini akan dikupas habis alasan-alasan seseorang atau bahkan mungkin Anda memutuskan pindah kerja.

Ø        Karier Mandeg

Jika Anda sudah bertahun-tahun bekerja di tempat yang sekarang ini tidak juga menunjukkan perubahan status yang jelas untuk karier Anda, sudah saatnya Anda berpikir untuk meninggalkan perusahaan. Apalagi Anda sudah mendiskusikan hal tersebut dengan atasan tetapi tidak juga ada tanggapan yang positif.

Ø        Gaji Kurang

Inilah faktor yang paling utama mengapa banyak karyawan pindah kerja. Membicarakan masalah uang memang sangat sensitif, apalagi mereka yang telah bekerja. Cape-cape mereka bekerja untuk perusahaan tetapi imbalan atau gaji yang diberikan tidak sesuai dengan cape yang dirasakan yah lebih baik untuk mencari pekerjaan lain saja.

Ø        Tidak Cocok Dengan Pekerjaan

Cocok atau tidaknya pekerjaan yang Anda lakukan sekarang adalah tergantung dari diri sendiri. Banyak sekarang ini pekerjaan yang mereka geluti tidak sesuai dengan ilmu yang diambilnya semasa kuliah. Jika Anda sudah merasa tidak cocok dengan apa yang Anda kerjakan sekarang, lebih baik untuk mencari pekerjaan lain. Jika hal tersebut dipaksakan hasil pekerjaan Anda tidak maksimal.

Ø        Memburuknya Hubungan Rekan Kerja

Hubungan Anda dengan rekan kerja memburuk. Wah kondisi seperti itu bisa dibilang tidak sehat lagi. Mau dipaksakan dengan cara apapun juga, tetap saja tidak akan pernah bisa memperbaikinya apalagi rekan kerja Anda tidak sepaham dan telah menyakiti hati Anda. Anda pun lama-lama juga tidak betah berada disana. Rasanya seperti di neraka saja.

Ø        Tawaran Lain

Jika ada tawaran yang lain yang lebih menggiurkan dan jelas misalnya tersedianya fasilitas-fasilitas untuk para karyawan, tunjangan kesehatan dan lain sebagainya, mengapa tidak Anda ambil. Apalagi perusahaan tempat Anda bekerja sekarang ini tidak menyediakan fasilitas-fasilitas tersebut.

Jika Anda mengalami hal-hal diatas, lebih baik Anda pindah bekerja. Sekalipun Anda paksakan untuk tetap berada di situ, hasil pekerjaan Anda pun menjadi tidak maksimal. Sebelum Anda memutuskan untuk hengkang dari perusahaan yang sekarang, ada baikknya jika Anda mencari tau terlebih dahulu informasi-informasi mengenai perusahaan tersebut.

Ok selamat menempati kantor baru ya.

Faktor Sosial-Budaya Pengaruhi Penggunaan Kondom?

April 18th, 2007 by syania-a

Para peneliti mengemukakan bahwa ternyata faktor sosial dan kebudayaan bisa menjadi penyebab kalangan muda enggan menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Dalam penelitian yang dilakukan terhadap kalangan muda berusia dibawah 25 tahun, ada yang merasa tak percaya dengan ‘alat pengaman’ tersebut dan juga ada yang berpikiran bahwa dengan selalu membawa kondom akan mempengaruhi pengalaman dan sensasi yang mereka dapatkan dalam melakukan kegiatan seksual.

Dalam tinjauan terhadap 250 penelitian perilaku seksual kalangan muda, para peneliti di London School of Hygiene and Tropical Medicine menemukan kesamaan mendasar, yang mempengaruhi perilaku seksual kalangan di beberapa negara berbeda. "Dari studi ini bisa disimpulkan kunci yang bisa membantu memahami perilaku seksual kalangan muda dan alasan mengapa mereka lebih suka melakukan seks tanpa pengaman," kata Dr. Cicely Marston dan Eleanor King dalam sebuah jurnal medis The Lancet.

Mereka menemukan, dibandingkan dengan lelaki, kebebasan seksual para wanita umumnya lebih terbatas. Jika seorang wanita kedapatan hamil diluar pernikahan, akan mendapatkan hukuman yang bentuknya sangat bervariasi, dari kritikan hingga pembunuhan. Hal ini juga didasarkan pada suatu anggapan, dimana seorang wanita yang dianggap mempermalukan keluarganya harus dibunuh. Namun, tidak demikian yang terjadi pada kaum lelaki yang melakukan seks di luar pernikahan.

Dan berangkat dari anggapan tersebut, para lelaki seolah memiliki legitimasi, bahkan hingga merasa ‘harus’ memiliki aktifitas seksual yang tinggi, dan itu yang mempengaruh perilaku ’seenaknya’ dari mereka dalam berhubungan seksual. Sementara, para wanita harus menjaga kesucian mereka, menurut data dari beberapa negara, termasuk Inggris, Australia, Meksiko dan Amerika Selatan.Sementara, studi yang lain, yang dilakukan antara tahun 1990-2004 menunjukkan bahwa kalangan muda sangat potensial terkena penyakit yang diderita oleh pasangannya, sehingga saat itu mulai dirasakan perlunya kondom. Namun karena tak dibarengi dengan sosialisasinya dan dirasa hanya akan mengurangi kenikmatan dalam berhubungan seksual, maka kondom hanya sekedar jadi opsi yang sangat bisa diabaikan.

"Temuan kami itu menjelaskan mengapa banyak program HIV tak bisa berjalan efektif. Program-program itu hanya menyediakan informasi dan kondom, tanpa membeberkan faktor sosial yang sangat penting, sehingga tak akan menyelesaikan permasalahan yang ada," kata para peneliti tersebut.

Tugas ke Luar Negeri, Jangan Lupa Etiketnya

April 18th, 2007 by syania-a

Anda termasuk salah satu jajaran di kantor yang karirnya mulai menanjak? Majunya karir dibarengi dengan seringnya Anda bertugas ke luar negeri? Atau ‘hanya sekedar’ didaulat kantor Anda untuk menghadiri seminar, meeting atau negosiasi bisnis di negeri seberang?

Bepergian ke luar negeri memang sering menjadi idaman setiap orang. Melihat keindahan negri tetangga yang mungkin tidak tahu kapan Anda bisa kunjungi sendiri, tiba-tiba saja menjadi hal yang sangat mungkin karena Anda dikirim kantor. Apalagi bila semua biayanya ditanggung kantor, walaupun intinya Anda tetap harus bekerja, tapi ini termasuk salah satu tawaran yang kerap sulit ditolak. Walaupun sudah menjadi hal yang biasa dalam dunia kerja, tapi euphoria bepergian ke luar negri tanpa memikirkan biaya kadang bisa membuat orang lupa etiket. Padahal intinya tetaplah Anda disana untuk bekerja dan bukan sekedar piknik cuci mata. Itu baru satu hal. Belum lagi kegugupan Anda karena harus bertemu orang baru atau calon perusahaan yang akan menjalin kerja sama dengan kantor Anda.

Mau tidak mau, Anda harus tampil prima sekaligus juga brilliant karena mengusung nama perusahaan Anda. Tapi ada kalanya Anda masih ‘kagok’ mempersiapkan diri, karena bagaimanapun, etiket bisnis di satu negara tidak dapat dipikul rata dengan negara lainnya. Lalu persiapan apa yang harus dilakukan agar perjalanan bisnis di manca negara tidak terlampau merepotkan ?

Beberapa langkah di bawah bisa menjadi dewa penolong agar perjalanan Anda ke manca negara membuahkan sukses. ·         

Tiap negara punya aturan dan kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya. Anda harus menghormati etiket yang berlaku di negara yang Anda kunjungi. Bahkan sebatas kemampuan Anda, kendati merasa kurang ’sreg’, Anda juga disarankan untuk mengikuti tata cara tuan rumah.

·          Tidak perlu membuat perbandingan frontal, baik dengan negara Anda sendiri maupun negara lain yang pernah Anda kunjungi. Kecuali memang Anda terlibat pembicaraan santai dengan topik tersebut dibuka oleh tuan rumah.


Please be on time! Ingat, Anda membawa tiga nama, nama sendiri, negara dan perusahaan Anda. Datang tepat waktu yang disepakati akan menimbulkan kesan baik.
·         

Bawalah uang tunai secukupnya dalam mata uang negara yang Anda kunjungi. Membawa kartu kredit yang berlaku internasional akan lebih praktis. Jika harus membawa barang berharga, titipkan pada petugas hotel untuk disimpan dalam safe deposit box.·         

Untuk menjaga citra profesional, saat bertemu dengan kolega kantor di sana ataupun mengurus segala sesuatu berbau urusan kantor, usahakan untuk selalu bersikap formal, baik dalam komunikasi langsung maupun surat menyurat. Ingat, Anda dikirim ke luar negeri untuk bekerja dan bukan untuk traveling santai. Jadi tetap konsentrasi pada pekerjaan.

Pelajari sistem mata uang mereka. Ini sangat berguna agar Anda tidak malu membayar terlalu sedikit atau malah rugi, karena membayar terlalu banyak.

·          Ingat nama-nama orang yang akan menjadi tuan rumah dan akrabkan lidah Anda dengan berlatih agar dapat mengucapkannya dengan baik dan benar. Panggil mereka dengan nama keluarga dan bukan nama kecilnya, kecuali jika mereka sendiri yang meminta Anda agar terasa lebih akrab.

·          Berhati-hatilah untuk menyebut posisi, jabatan atau gelar akademis dari orang-orang yang menjadi tuan rumah. Jangan sampai salah sebut.

·          Sebisa mungkin hindari membuka topik diskusi soal politik dan ekonomi negara yang Anda kunjungi.

·          Bersikap sopan dengan siapa saja. Sikap sopan akan selalu dihargai dimana saja. Termasuk dimulai dari belajar mengucapkan ‘terima kasih’, ’silakan’, ‘permisi’ dalam bahasa setempat. Bila Anda sedikit lebih rajin, pelajari beberapa kata sapaan beramah tamah seperti, ’selamat pagi/siang/malam’ untuk menghormati tuan rumah.

·          Terakhir, tentunya bereskan pekerjaan Anda dengan baik, agar perusahaan tidak merasa rugi mengutus Anda.

Jangan lupa oleh-olehnya…..

Wisata Alamku Danau Kelimutu

April 18th, 2007 by syania-a

www.joelsantos.netwww.joelsantos.net
Panorama Danau Tiga Warna Kelimutu di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, memang penuh misteri yang tak terselami hingga saat ini. Perubahan warna danau yang sering terjadi di tiga kawah terpisah bekas letusan Gunung Kelimutu itu menjadi keunikan yang tak ada duanya di dunia. Sebagai warga yang cukup lama tinggal di daratan Flores, saya akan memaparkan apa yang saya ketahui tentang Danau Kelimutu berdasarkan pengamatan dan pengetahuan pribadi.

Danau Kelimutu di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, ini dikenal sebagai danau tiga warna. Dinding danau yang indah ini rawan longsor.Sayangnya, keindahan Danau Kelimutu tak seindah sistem pengelolaannya. Sejumlah fasilitas, terutama sarana untuk wisatawan, kini banyak dalam kondisi rusak dan tak terawat. Misalnya saja kamar kecil, bangunan pendapa di areal parkir yang kondisinya memprihatinkan, serta kapasitas lahan parkir yang amat terbatas, yang hanya mampu menampung sekitar 20 kendaraan roda empat dan beberapa sepeda motor.

Danau Kelimutu sesungguhnya merupakan salah satu obyek wisata andalan Flores. Untuk mencapai danau yang terletak sekitar 51 kilometer arah timur dari kota Ende itu, wisatawan bisa menggunakan kendaraan bermotor dari Ende, juga bisa menggunakan bus antarkota.

Pemandangan di kawasan itu sangat memesona. Kabut putih tebal yang bergerak perlahan menutupi puncak Gunung Kelimutu ( kurang lebih 1.640 meter di atas permukaan laut) merupakan salah satu pemandangan yang sangat khas di sekitar tiga danau berwarna di atas puncak gunung.

Potensial

www.joelsantos.netDi kawasan Danau Kelimutu banyak hal yang dapat dijumpai, yang jika dikelola secara optimal pasti akan mampu menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Manakala situasi sepi pengunjung, suasana akan terasa senyap dan menjemukan. Kita hanya akan melihat hamparan tanah dengan sejumlah tanaman hijau, selain tentunya menyaksikan perubahan warna yang menakjubkan ketiga danau. Namun, jangan berharap ada penjelasan atau keterangan yang memadai seputar keajaiban danau itu maupun alam sekitarnya.

Di kawasan danau hanya ada satu papan yang "berjudul" Perubahan Alam, Kepercayaan Abadi. Akan tetapi, papan itu pun kondisinya sudah tak terawat, penuh goresan tangan jahil yang menghilangkan sejumlah huruf. Keterangan yang diberikan pun hanya seputar legenda secara garis besar, tidak ada penjelasan secara ilmiah.

Minus brosur

Tiga danau yang letaknya berdekatan satu sama lain itu juga "tidak bernama". Di sisi timur, terdapat dua danau, yang airnya masing-masing berwarna hijau dan coklat tua. Untuk danau yang berwarna hijau, masyarakat biasanya menyebutnya dengan danau arwah muda-mudi (tiwu nua muri ko’o fai). Yang berwarna coklat tua disebut danau arwah tukang tenung atau orang jahat (tiwu ata polo). Di sisi barat ada satu danau yang berwarna hijau lumut atau gelap, yang biasa disebut danau arwah orang tua (tiwu ata mbupu).

Namun, keterangan sederhana tentang nama-nama itu pun tak bisa kita temui di lokasi danau. Apalagi kalau pengunjung berharap mendapat informasi yang lebih jauh.

 
Perubahan warna

www.joelsantos.netSejumlah kalangan menduga, perubahan warna air di danau itu disebabkan aktivitas gunung berapi Kelimutu, pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, terjadinya zat kimia terlarut, serta akibat pantulan warna dinding dan dasar danau.

Penjelasan singkat bahwa perubahan warna air ke biru putih (sekarang hijau) dimungkinkan oleh perubahan komposisi kimia air kawah akibat perubahan gas-gas gunung api, atau dapat juga akibat meningkatnya suhu.

Sementara itu, meningkatnya konsentrasi besi (Fe) dalam fluida menyebabkan warna merah hingga kehitaman (sekarang coklat tua). Adapun warna hijau lumut dimungkinkan dari biota jenis lumut tertentu.

Lalu soal dinding pemisah antara tiwu nua muri ko’o fai dengan tiwu ata polo diberikan penjelasan singkat bahwa dari sudut geologi, bagian dinding danau merupakan bagian yang paling labil. Dengan posisi berdekatan, apalagi jika terjadi gempa dengan skala besar, tidak menutup kemungkinan kedua danau ini akan menyatu.

Selain itu, mengingat Pulau Flores termasuk daerah rawan gempa, diperlukan kajian untuk dapat menginformasikan kepada wisatawan pada lokasi mana harus berlindung ketika berada di sekitar Danau Kelimutu.

Bau Badan dan Jodoh Anda

April 10th, 2007 by syania-a

Bagaimana bau badan Anda ? Menyengat ? Atau harum karena telah disembunyikan oleh parfum ? Tahu
tidak, bau badan Anda ternyata menentukan siapa jodoh Anda, dan tingkat relasi
emosi yang dimungkinkannya. Untuk lebih spesifik, jodoh Anda adalah yang bau
keringatnya sangat mirip dengan Anda. Lho!

Ya, aneh kan ? Tapi, jangan karena ini Anda lalu
menciumi tubuh setiap wanita yang Anda jumpa, dan mencari-cari kecocokan bau
keringatnya dengan Anda. Bukan jodoh yang Anda dapat, malah mungkin petaka.
Juga, jangan karena ini Anda jadi membiarkan tubuh mengeluarkan aromanya, biar
“mencari” jodohnya sendiri. Karena, wanita mana pun tak suka lelaki yang
terlalu bau.

Lalu bagaimana caranya. Santai.
Ternyata, tubuh punya mekanisme sendiri untuk menyukai bau yang sejenis.
Penelitian telah membuktikan.

Secara hormonal, perempuan ternyata
lebih baik indra penciumannya. Ini disebabkan tingginya hormon estrogen yang
diketahui sebagai aktivator reseptor penciuman. Sehingga tak aneh kalau kaum
perempuan pun mengandalkan ketajaman penciumannya agar bisa merasa dekat dengan
kaum laki-laki.

Lebih ekstrim lagi sebuah jurnal
ilmiah bertajuk Nature Genetics
mengungkapkan sebuah penelitian yang menggambarkan bahwa cara termudah dan
teraman bagi kaum perempuan untuk memilih kekasih atau calon suami justru
dengan cara mencium bau badannya. Peran bau badan sebagai alat perjodohan
merupakan pengetahuan yang telah lama diketahui.

Para peneliti sejak dulu mendeteksi,
hewan melepaskan bau khas yang disebut kemosinya (sinyal kimiawi). Kemosinya
itu, yang kerap disebut feromon, memainkan peran vital dalam perilaku individu
dalam memilih pasangan, mengenali individu lainnya, dan dalam memelihara
anak-anaknya.

Hal senada juga pernah diungkap
dalam jurnal Nature Neuroscience, yang
pernah mengungkap hasil penelitian Pamela Dalton, PhD, seorang ilmuwan dari
Monell Chemical Senses Center di Philadelphia , USA . Pamela menganalisis bahwa
perempuan ini terbantu untuk mengenali pasangan mereka dengan tepat.

Untuk menentukan pengaruh bau dalam
perjodohan. Para peneliti   Chicago di bawah pimpinan Martha McClintock melakukan percobaan tak biasa. Mereka
merekrut enam laki-laki yang memiliki latar belakang etnis berbeda, yang
masin-masing diminta terus mengenakan sebuah pakaian selama dua malam, hingga
bau badan pemakainya melekat pada kain.

Selama bau dicangkokkan, mereka
hanya diperkenankan mandi dengan sabun tak berbau, dilarang menggunakan parfum
dan sejenisnya, dan diminta menghindari 21 jenis makanan pedas atau berbau
kuat. Mereka juga diminta menghindari asap rokok, mendekati hewan peliharaan,
dan berdekatan dengan individu lainnya. Kemudian, T-shirt itu dipotong-potong
menjadi carikan-carikan kecil dengan gunting steril. Potongan itu ditempatkan
dalam kotak-kotak khusus.

Kotak-kotak itu dibawa kepada 49
sukarelawan wanita yang tak pernah hamil. Mereka diminta membaui T-shirt
tersebut dan memberi penilaian bagaimana derajat kenyamanan bau itu, derajat
ketidakasingannya, ketajamanan dan identitasnya. Merka juga diminta untuk
menentukan apakah mereka menolak atau justru berkeinginan mencium bau tersebut
sepanjang waktu.

“ Kami tak bermaksud mengukur bau
yang mana yang menarik secara seksual,” kata McClintock. “ Kami lebih ingin
menemukan bau seperti apa yang diinginkan wanita sepanjang waktu. Sebagai
contoh, Anda mungkin menyenangi bau bawang putih, tapi tak ingin terus
menciumnya selama 24 jam sehari.”

Para peneliti kemudian mengolaborasikan hasilnya dengan profil genetis sukarelawan
laki-laki dan wanita tersebut.  Profil
genetis yang dilihat adalah gen yang human
leukocyte antigen
(HLA). Gen ini yang membuat individu menyenangi bau tertentu, tidak menginginkan
bau yang lainnya, dan bersifat khas ada jutaan kombinasi yang membuat respon
individu berbeda-beda dan hanya kembar identik yang memiliki HLA sama.

Ternyata, wanita lebih menyenangi
bau laki-laki yang profil HLA-nya sedikit mirip dengan miliknya, dibanding yang
cukup mirip atau sama sekali tak mirip. Sebuah temuan ilmiah yang sangat
menarik dan bisa dijadikan acuan bagi kaum pria.

Artinya, para pria harus peka bila
aroma yang ada dalam tubuh mereka sangat mempengaruhi lawan jenisnya. Sehingga
pria pun bisa makin waspada pada kencan pertama mereka.

“ Saya merasa diri saya oke,
penampilan pekerjaan, karier, dan apa yang ada dalam diri saya cukup sempurna,
tetapi mengapa saya sangat sulit menjalin hubungan serius dengan kaum wanita ?”
kata seorang pria menceritakan pengalamannya. Barangkali saja pria mapan dan
tampan ini kurang sadar bahwa bau badannya yang menjadi kendalanya selama ini.
Meski ia tidak mengeluarkan bau badan yang terlalu memusingkan, namun
barangkali memang ada aroma dasar dalam dirinya yang membuat kaum hawa agak
menjauhinya.

Nah, bagaimana dengan Anda ?
Sudahkah kekasih atau pasangan Anda berbau tubuh sama dan nyaman dengan Anda,
disaat paling berkeringat sekalipun ? Jika ya, duh, selamat, dia memang jodoh
Anda, setidaknya itu kata para peneliti.